ANALOG: NEOM dan Qiddiyah, Mimpi Kota Masa Depan atau Utopia Elitis?

Proyek NEOM dan Qiddiyah muncul sebagai dua simbol paling ambisius dari transformasi ruang urban di Timur Tengah. Keduanya dipromosikan sebagai kota masa depan yang menggabungkan teknologi canggih, hiburan kelas dunia, dan keberlanjutan lingkungan. Melalui narasi pembangunan futuristik, proyek ini diposisikan sebagai lompatan besar menuju masyarakat modern yang efisien dan kompetitif secara global. Kota tidak lagi sekadar ruang hidup, tetapi etalase kemajuan nasional.
NEOM dirancang sebagai kota pintar lintas batas dengan konsep linear city, energi terbarukan, dan kecerdasan buatan sebagai fondasi utama. Sementara itu, Qiddiyah dikembangkan sebagai pusat hiburan, olahraga, dan budaya berskala global. Kedua proyek ini menampilkan visi modernisasi instan yang dibiayai oleh kapital besar dan didukung penuh oleh negara. Pembangunan dipercepat melalui perencanaan terpusat, tanpa proses historis bertahap sebagaimana kota kota tradisional.
Dalam kerangka teori modernisasi, pembangunan NEOM dan Qiddiyah mencerminkan pandangan bahwa kemajuan sosial dapat dicapai melalui adopsi teknologi, investasi besar, dan rasionalisasi ruang. Teori ini memandang modernitas sebagai jalur linear yang harus dilalui masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. Kota futuristik dipahami sebagai indikator keberhasilan transformasi dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.
Namun, pendekatan modernisasi semacam ini sering mengabaikan dimensi sosial dan kultural. Pembangunan dipersempit menjadi persoalan infrastruktur dan citra global, sementara relasi sosial lokal kurang diperhitungkan. Kota dirancang sebagai produk visual yang siap dipasarkan kepada investor dan wisatawan internasional. Dalam konteks ini, modernitas lebih berfungsi sebagai simbol daripada proses sosial yang inklusif.
Perspektif kritis terhadap teori modernisasi menyoroti potensi alienasi sosial yang muncul dari proyek semacam NEOM dan Qiddiyah. Ketika ruang urban dibentuk berdasarkan logika efisiensi dan estetika global, warga lokal berisiko terpinggirkan. Kota tidak lagi menjadi ruang interaksi sosial yang organik, melainkan ruang terkurasi yang membatasi akses berdasarkan kelas dan status ekonomi.
Alienasi ini terlihat dari bagaimana kehidupan sehari hari direncanakan secara top down. Warga diposisikan sebagai pengguna sistem, bukan subjek yang membentuk ruang. Dalam situasi ini, individu dapat merasa terasing dari lingkungannya sendiri karena ruang kota tidak mencerminkan kebutuhan dan identitas sosial mereka. Modernisasi yang dipaksakan justru berpotensi melemahkan ikatan sosial.
NEOM dan Qiddiyah juga memperlihatkan bagaimana ruang urban menjadi alat legitimasi kekuasaan. Kota futuristik digunakan untuk menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola teknologi, kapital, dan visi masa depan. Di panggung internasional, proyek ini berfungsi sebagai simbol status dan daya saing global. Pembangunan kota menjadi strategi politik untuk membangun citra progresif dan modern.
Dalam konteks ini, kota tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai narasi politik. Arsitektur megah, teknologi canggih, dan hiburan spektakuler membentuk imaji kemajuan yang dapat menutupi persoalan ketimpangan sosial. Ruang urban menjadi medium representasi kekuasaan yang bekerja melalui visual dan simbol.
Keterlibatan kapital besar dalam proyek NEOM dan Qiddiyah juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan oleh modernisasi ini. Investasi masif cenderung menguntungkan elite ekonomi dan korporasi global. Sementara itu, akses terhadap ruang dan sumber daya kota berpotensi dibatasi bagi kelompok tertentu. Kota masa depan berisiko menjadi ruang eksklusif.
Dalam teori modernisasi klasik, pembangunan diasumsikan membawa kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun pengalaman berbagai proyek megakota menunjukkan bahwa distribusi manfaat sering kali tidak merata. NEOM dan Qiddiyah dapat mereproduksi ketimpangan sosial jika pembangunan lebih berorientasi pada citra daripada keadilan sosial.
Utopia yang ditawarkan oleh NEOM dan Qiddiyah juga mengandung paradoks. Di satu sisi, kota masa depan menjanjikan efisiensi, hiburan, dan keberlanjutan. Di sisi lain, ia berpotensi menghilangkan spontanitas sosial dan keberagaman yang menjadi ciri kota hidup. Ruang yang terlalu dirancang dapat kehilangan dinamika sosialnya.
Dengan demikian, NEOM dan Qiddiyah mencerminkan ambivalensi modernisasi kontemporer. Mereka menghadirkan mimpi kemajuan yang mengagumkan, sekaligus risiko utopia elitis yang terlepas dari realitas sosial. Melalui perspektif teori modernisasi dan kritik terhadapnya, proyek ini dapat dipahami sebagai upaya membangun masa depan yang lebih bersifat simbolik daripada partisipatif.
Kesimpulannya, NEOM dan Qiddiyah bukan sekadar proyek pembangunan kota, tetapi arena ideologis tempat modernitas, kekuasaan, dan kapital bertemu. Kota masa depan diposisikan sebagai bukti kemajuan linear, namun menyimpan potensi alienasi dan eksklusi sosial. Pertanyaannya bukan hanya seberapa canggih kota ini, tetapi untuk siapa masa depan itu dirancang.