ANALOG: Akuisisi Netflix dan Matinya Kompetisi Kreatif?

Isu akuisisi Netflix terhadap Warner Bros, terlepas dari statusnya sebagai wacana atau kemungkinan strategis, mencerminkan kecenderungan nyata dalam industri media global kontemporer. Platform streaming raksasa semakin memperluas kontrolnya, tidak hanya sebagai distributor konten, tetapi juga sebagai pemilik penuh atas proses produksi, kurasi, dan sirkulasi budaya populer. Dalam lanskap ini, batas antara studio film klasik dan platform digital menjadi kabur, digantikan oleh konglomerasi media berskala global.
Netflix selama satu dekade terakhir berkembang dari layanan distribusi menjadi kekuatan produksi budaya yang dominan. Dengan algoritma, data penonton, dan modal besar, platform ini mampu menentukan genre apa yang diproduksi, narasi mana yang diprioritaskan, serta estetika apa yang dianggap laku. Warner Bros, sebagai studio legendaris dengan sejarah panjang sinema dan televisi, merepresentasikan tradisi industri budaya lama yang berbasis studio dan jaringan bioskop. Akuisisi semacam ini melambangkan pergeseran kekuasaan dari industri media klasik ke kapitalisme platform.
Fenomena konsolidasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan kompetisi kreatif. Ketika satu entitas menguasai produksi, distribusi, dan promosi sekaligus, ruang bagi keragaman narasi cenderung menyempit. Kreativitas tidak lagi ditentukan oleh eksperimen artistik, tetapi oleh kalkulasi pasar dan data perilaku penonton. Budaya populer bergerak menuju standarisasi yang halus namun sistematis.
Untuk membaca fenomena ini secara sosiologis, teori kapitalisme lanjut atau late capitalism memberikan kerangka analisis yang relevan. Teori ini menyoroti fase kapitalisme di mana produksi budaya sepenuhnya terintegrasi ke dalam logika pasar global, teknologi tinggi, dan konsentrasi modal. Budaya tidak lagi berada di luar ekonomi, melainkan menjadi sektor utama akumulasi kapital.
Salah satu tokoh penting dalam analisis kapitalisme lanjut adalah Herbert Marcuse, pemikir Mazhab Frankfurt. Dalam karyanya One Dimensional Man, Marcuse menjelaskan bagaimana masyarakat kapitalis lanjut menciptakan keseragaman kebutuhan, selera, dan kesadaran melalui industri budaya. Kebebasan memilih tampak luas, tetapi sebenarnya dibatasi oleh pilihan yang telah dikurasi oleh sistem.
Dalam konteks akuisisi Netflix terhadap Warner Bros, gagasan Marcuse tentang masyarakat satu dimensi menjadi sangat relevan. Penonton diberi ilusi keragaman konten, padahal narasi, genre, dan tema cenderung berputar pada pola yang aman secara komersial. Algoritma menggantikan kurator budaya, dan preferensi publik dibentuk secara perlahan melalui paparan berulang terhadap tipe cerita tertentu.
Kapitalisme lanjut juga ditandai oleh konsentrasi kepemilikan yang ekstrem. Akuisisi bukan sekadar strategi bisnis, tetapi mekanisme struktural untuk mengurangi kompetisi. Dalam industri media, hal ini berarti semakin sedikit aktor yang memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang layak diproduksi dan dikonsumsi. Kreator independen dan narasi alternatif semakin sulit bersaing dalam ekosistem yang dikendalikan raksasa platform.
Marcuse menekankan bahwa dominasi dalam kapitalisme lanjut tidak selalu bersifat represif, melainkan persuasif. Penonton tidak dipaksa menonton konten tertentu, tetapi diarahkan melalui rekomendasi, tren, dan popularitas semu. Kontrol bekerja melalui kenyamanan dan hiburan, bukan larangan. Dalam konteks ini, Netflix tidak hanya menjual tontonan, tetapi membentuk imajinasi sosial.
Akuisisi media juga mengubah relasi antara budaya dan kekuasaan. Warner Bros, dengan warisan sinema klasik dan cerita ikonik, ketika berada di bawah kendali platform tunggal, berisiko kehilangan otonomi kreatifnya. Warisan budaya direduksi menjadi aset yang dapat dioptimalkan untuk engagement dan retensi pengguna. Sejarah budaya menjadi bagian dari portofolio bisnis.
Dalam kapitalisme lanjut, budaya populer berfungsi sebagai alat stabilisasi sosial. Hiburan yang terus mengalir mengurangi ruang refleksi kritis terhadap struktur ekonomi dan politik. Marcuse melihat kondisi ini sebagai bentuk penjinakan kesadaran, di mana potensi emansipatoris seni dilemahkan oleh integrasinya ke dalam pasar. Akuisisi media mempercepat proses ini dengan menghilangkan pusat produksi alternatif.
Namun demikian, konsolidasi tidak selalu berarti kematian kreativitas secara total. Celah resistensi masih mungkin muncul melalui platform kecil, produksi independen, atau pembacaan kritis penonton. Akan tetapi, ruang tersebut semakin sempit dan tidak setara. Kreativitas harus bernegosiasi dengan algoritma dan kepentingan investor.
Dengan demikian, isu akuisisi Netflix terhadap Warner Bros dapat dibaca sebagai gejala kapitalisme lanjut dalam industri budaya. Melalui perspektif Herbert Marcuse, konsentrasi kepemilikan memperkuat keseragaman narasi dan membatasi imajinasi kolektif. Budaya populer tidak lagi menjadi ruang netral ekspresi kreatif, melainkan medan ekonomi politik yang sangat terstruktur, di mana kompetisi kreatif berisiko mati secara perlahan, bukan karena ketiadaan ide, tetapi karena dominasi sistem yang mengaturnya.