ANALOG: Minyak, Moralitas, dan Bayang-bayang Imperialisme Lama

Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis minyak dalam ekonomi politik global. Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, namun justru terjebak dalam krisis ekonomi, politik, dan sosial yang berkepanjangan. Paradoks ini menjadikan Venezuela bukan hanya aktor nasional yang berdaulat, tetapi juga medan kontestasi kepentingan global. Amerika Serikat, sebagai kekuatan dominan dalam sistem internasional, sejak lama memandang Venezuela bukan sekadar negara Amerika Latin, melainkan simpul penting dalam keamanan energi dan stabilitas geopolitik kawasan.
Ketergantungan Venezuela terhadap minyak membentuk struktur ekonomi yang rapuh. Selama puluhan tahun, minyak menjadi sumber utama pendapatan negara, pembiayaan program sosial, dan legitimasi kekuasaan politik. Namun struktur ekonomi berbasis komoditas ini membuat Venezuela sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan eksternal. Ketika harga minyak menurun dan akses pasar internasional dibatasi, krisis domestik pun semakin dalam. Dalam konteks ini, konflik dengan Amerika Serikat bukan muncul secara tiba tiba, melainkan tumbuh dari relasi struktural yang telah lama terbentuk.
Amerika Serikat membingkai hubungannya dengan Venezuela melalui bahasa moralitas global. Isu demokrasi, hak asasi manusia, dan stabilitas kawasan dijadikan narasi utama untuk membenarkan tekanan politik dan ekonomi. Namun di balik retorika tersebut, minyak tetap menjadi kepentingan strategis yang tidak dapat dipisahkan. Venezuela berada di kawasan yang secara historis dianggap sebagai wilayah pengaruh Amerika Serikat, sehingga setiap upaya nasionalisasi sumber daya dipersepsikan sebagai ancaman terhadap tatanan regional.
Dengan demikian, konflik Amerika Serikat dan Venezuela bukan sekadar persoalan ideologi antara sosialisme dan liberalisme, tetapi persoalan struktural dalam sistem kapitalisme global. Minyak berfungsi sebagai penghubung antara krisis internal Venezuela dan tekanan eksternal dari negara negara kuat. Untuk memahami dinamika ini, teori sistem dunia Immanuel Wallerstein memberikan kerangka analisis yang komprehensif.
Menurut Wallerstein, dunia modern tersusun dalam satu sistem kapitalis global yang terbagi ke dalam negara pusat, semi pinggiran, dan pinggiran. Negara pusat menguasai modal, teknologi, dan kekuatan politik, sementara negara semi pinggiran dan pinggiran berfungsi sebagai pemasok bahan mentah. Relasi ini bersifat hierarkis dan eksploitatif, serta direproduksi secara terus menerus. Dalam struktur ini, Amerika Serikat menempati posisi negara pusat, sedangkan Venezuela berada pada posisi semi pinggiran yang kaya sumber daya namun lemah secara struktural.
Di bawah kepemimpinan Donald Trump, posisi Amerika Serikat sebagai negara pusat diekspresikan secara lebih terbuka dan agresif. Trump membawa pendekatan politik luar negeri yang keras dan transaksional. Venezuela diposisikan sebagai negara gagal, ancaman demokrasi, dan sumber ketidakstabilan regional. Retorika ini kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan sanksi ekonomi yang ketat, pembekuan aset, serta pembatasan ekspor minyak Venezuela ke pasar internasional.
Kebijakan sanksi maksimum yang diterapkan pemerintahan Trump menunjukkan bagaimana negara pusat menggunakan instrumen ekonomi untuk mengontrol negara semi pinggiran. Dalam logika sistem dunia, tekanan semacam ini bukanlah penyimpangan, melainkan mekanisme normal untuk menjaga hierarki global. Venezuela dihukum bukan semata karena persoalan demokrasi, tetapi karena mencoba mengelola sumber daya strategis di luar kendali sistem yang didominasi negara pusat.
Peran US Navy dalam konflik ini memperjelas dimensi kekuasaan militer dalam sistem dunia. Kehadiran armada laut Amerika Serikat di kawasan Karibia dan perairan Amerika Latin tidak hanya berfungsi sebagai pengamanan jalur laut, tetapi juga sebagai demonstrasi kekuatan. Operasi patroli dan latihan militer dibingkai sebagai upaya menjaga keamanan, namun secara sosiologis merupakan sinyal bahwa negara pusat memiliki kapasitas koersif untuk menegakkan kepentingannya.
Dalam kerangka Wallerstein, kekuatan militer negara pusat berfungsi sebagai penjaga stabilitas sistem kapitalisme global. US Navy menjadi instrumen yang memastikan bahwa aliran energi dan perdagangan internasional tetap berada dalam orbit kepentingan negara pusat. Bagi Venezuela, kehadiran militer ini mempertegas posisi subordinatnya dalam struktur global, di mana ruang manuver politik dan ekonomi sangat terbatas.
Di sisi lain, Presiden Venezuela Nicolás Maduro merepresentasikan upaya negara semi pinggiran untuk mempertahankan kedaulatan nasional. Melanjutkan warisan Hugo Chávez, Maduro menempatkan minyak sebagai simbol kedaulatan dan alat perlawanan terhadap dominasi asing. Nasionalisasi industri minyak dan penolakan terhadap intervensi eksternal menjadi inti narasi politiknya. Namun perlawanan ini berlangsung dalam kondisi struktural yang tidak seimbang.
Ketergantungan Venezuela pada minyak justru menjadi titik lemah dalam sistem dunia. Ketika akses pasar global dibatasi melalui sanksi, kemampuan negara untuk membiayai kebutuhan sosial runtuh. Dalam perspektif sistem dunia, krisis kemanusiaan yang muncul bukan sekadar kegagalan kebijakan domestik, tetapi konsekuensi dari posisi struktural negara semi pinggiran yang sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah.
Narasi moral yang digunakan Amerika Serikat berfungsi sebagai legitimasi ideologis dari dominasi struktural. Wallerstein menekankan bahwa sistem dunia tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan material, tetapi juga melalui wacana. Demokrasi dan hak asasi manusia menjadi bahasa universal yang menutupi relasi eksploitatif. Dalam konteks ini, moralitas tidak netral, melainkan bagian dari mekanisme kekuasaan.
Konflik Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa imperialisme tidak pernah benar benar hilang, melainkan bertransformasi. Jika dahulu imperialisme hadir melalui kolonialisme langsung, kini ia bekerja melalui sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, dan demonstrasi kekuatan militer. Minyak menjadi medium utama di mana relasi imperialisme baru ini dijalankan.
Dengan demikian, konflik minyak antara Amerika Serikat dan Venezuela merupakan refleksi dari ketimpangan struktural dalam sistem dunia kapitalis. Trump merepresentasikan kepentingan negara pusat, US Navy berfungsi sebagai alat kekuasaan keras, sementara Maduro mencerminkan upaya negara semi pinggiran untuk bertahan. Minyak bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan simbol relasi kuasa global yang timpang dan bayang bayang imperialisme lama yang masih membentuk dunia kontemporer.