ANALOG: Konflik NewJeans dan Retaknya Relasi Kuasa di Industri K-Pop

NewJeans adalah grup K Pop generasi keempat yang debut di bawah agensi ADOR, anak perusahaan dari HYBE Corporation. Grup ini terdiri dari lima anggota dan dengan cepat mencuri perhatian publik sejak kemunculan perdananya. Berbeda dari pola debut idol K Pop pada umumnya, NewJeans diperkenalkan tanpa promosi besar-besaran, namun langsung menarik perhatian melalui pendekatan visual yang sederhana, nuansa musik yang ringan, dan narasi remaja yang terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Lagu-lagu seperti Attention, Hype Boy, Cookie, Ditto, dan Super Shy menjadi populer secara global dan memperkuat citra NewJeans sebagai simbol kesegaran baru dalam industri K Pop yang selama ini dikenal sangat formulaik.
Popularitas NewJeans yang melesat cepat tidak hanya menjadikannya aset ekonomi penting, tetapi juga menempatkannya di pusat dinamika kekuasaan industri hiburan. Konflik yang kemudian mencuat melibatkan relasi antara ADOR sebagai manajemen langsung, HYBE sebagai korporasi induk, serta figur kreator dan eksekutif yang berperan besar dalam pembentukan identitas NewJeans. Alur konflik berawal dari perbedaan pandangan mengenai arah artistik, kepemilikan konsep, dan kontrol kreatif terhadap NewJeans. Perselisihan ini berkembang menjadi konflik terbuka yang memperlihatkan tarik-menarik kepentingan antara kreativitas, otoritas korporasi, dan kepentingan bisnis berskala besar. NewJeans, sebagai grup, berada di tengah struktur tersebut sebagai subjek sekaligus objek industri.
Konflik ini membuka ruang analisis tentang bagaimana industri K Pop bekerja sebagai industri budaya, sebagaimana dikritik oleh Theodor Adorno. Dalam teori industri budaya, Adorno menyatakan bahwa produk seni dalam masyarakat kapitalistik tidak lagi diproduksi sebagai ekspresi otonom, melainkan sebagai komoditas yang tunduk pada logika pasar. Musik populer diciptakan, dikemas, dan didistribusikan berdasarkan perhitungan keuntungan, bukan kebebasan artistik. Dalam kerangka ini, artis diposisikan sebagai bagian dari mesin produksi budaya yang harus selaras dengan kepentingan pemilik modal.
Relasi antara NewJeans, ADOR, dan HYBE mencerminkan struktur industri budaya yang hierarkis. Meskipun NewJeans dipromosikan sebagai grup dengan identitas unik dan autentik, kontrol utama atas produksi, distribusi, dan arah karier tetap berada di tangan korporasi. Adorno menyebut kondisi ini sebagai standarisasi budaya, di mana variasi yang ditampilkan kepada publik sebenarnya berada dalam batas-batas yang aman bagi pasar. Kebebasan kreatif yang tampak di permukaan sering kali merupakan hasil kurasi ketat agar tetap sesuai dengan kepentingan ekonomi.
Konsep pseudo individualization yang dikemukakan Adorno juga relevan untuk membaca kasus NewJeans. Keunikan konsep NewJeans, mulai dari visual hingga musikalitas, dapat dipahami sebagai diferensiasi semu yang berfungsi mempertahankan daya tarik pasar. Industri menciptakan ilusi kebaruan agar konsumen merasa mendapatkan sesuatu yang berbeda, padahal struktur produksinya tetap sama. Konflik yang muncul justru membongkar ilusi tersebut, memperlihatkan bahwa di balik citra kebebasan, terdapat kontrol ketat terhadap identitas dan arah kreatif grup.
Ketika perbedaan pandangan antara kreator dan korporasi mencuat ke publik, ketegangan ini menunjukkan batas toleransi industri terhadap otonomi. Dalam perspektif Adorno, industri budaya tidak memberi ruang besar bagi ketidakpastian dan eksperimen yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar. Setiap upaya untuk mengklaim kepemilikan kreatif atau otonomi yang lebih luas berhadapan langsung dengan kepentingan kapital yang ingin mempertahankan kontrol penuh atas komoditas budaya.
Lebih jauh, konflik NewJeans juga mencerminkan perubahan kesadaran generasi baru dalam industri hiburan. Artis dan penggemar kini lebih kritis terhadap relasi kuasa, eksploitasi, dan hak kreatif. Namun, sebagaimana dikritik Adorno, industri budaya memiliki kemampuan untuk menyerap dan menetralkan kritik tersebut. Konflik dapat menjadi bagian dari narasi konsumsi, sementara struktur kapitalistiknya tetap bertahan tanpa perubahan mendasar.
Dengan demikian, konflik NewJeans bukan sekadar perselisihan internal antara individu atau perusahaan, melainkan cerminan struktural dari industri budaya K Pop. Melalui lensa teori industri budaya Adorno, kasus ini memperlihatkan bagaimana kreativitas, identitas, dan ekspresi artistik terus dinegosiasikan dalam relasi kuasa yang timpang. Di balik popularitas global dan citra kebebasan, industri K Pop tetap beroperasi sebagai sistem produksi kapital yang membatasi otonomi artis dan menempatkan seni dalam kerangka kepentingan pasar.