ANALOG: Politik Minoritas dan Strategi Identitas di Kota Global

Pemilihan wali kota New York merupakan salah satu kontestasi politik lokal paling kompleks di dunia. Kota ini tidak hanya menjadi pusat ekonomi global, tetapi juga ruang sosial yang dihuni oleh beragam kelompok etnis, ras, agama, kelas, dan latar migrasi. Lebih dari separuh penduduk New York berasal dari komunitas minoritas, dengan pengalaman hidup yang sangat beragam dalam akses perumahan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Dalam konteks ini, pemilihan wali kota tidak sekadar pertarungan program kebijakan, melainkan arena di mana identitas sosial, pengalaman marginal, dan tuntutan pengakuan bertemu secara langsung dengan mekanisme demokrasi elektoral.
Sistem politik New York juga memiliki karakter khas yang memungkinkan dinamika tersebut berkembang. Mekanisme pemilihan dengan basis distrik, keterlibatan komunitas akar rumput, serta tradisi aktivisme sosial yang kuat menjadikan politik kota ini relatif terbuka bagi aktor di luar elite politik mapan. Isu ketimpangan ekonomi, krisis perumahan, rasisme struktural, dan akses layanan publik menjadi tema utama yang membentuk preferensi pemilih. Dalam ruang sosial seperti ini, identitas bukan sekadar latar belakang pribadi kandidat, melainkan sumber legitimasi politik yang nyata.
Zohran Mamdani muncul dalam konteks tersebut sebagai figur politik yang merepresentasikan perubahan generasi dan arah politik kota. Ia dikenal sebagai politisi progresif dengan latar belakang keluarga imigran dan keterlibatan panjang dalam gerakan sosial. Mamdani membangun reputasi politiknya melalui advokasi isu perumahan terjangkau, keadilan ekonomi, dan perlindungan kelompok rentan di wilayah perkotaan. Identitasnya sebagai bagian dari komunitas minoritas tidak ia sembunyikan, tetapi justru ia jadikan titik awal untuk berbicara tentang pengalaman ketimpangan yang dialami banyak warga New York.
Strategi politik Mamdani menunjukkan pergeseran penting dalam demokrasi urban. Ia tidak menggunakan identitas semata sebagai simbol representasi, melainkan sebagai dasar pembentukan solidaritas politik. Pengalaman sebagai minoritas diposisikan sebagai pengalaman sosial yang sah untuk dijadikan landasan kebijakan publik. Pendekatan ini membuat kampanyenya mampu menjangkau berbagai kelompok yang selama ini merasa terpinggirkan dari politik arus utama. Identitas tidak berdiri sendiri, tetapi selalu dihubungkan dengan isu struktural seperti biaya hidup, akses transportasi, dan ketidakadilan ekonomi.
Fenomena ini dapat dianalisis melalui teori multicultural citizenship yang dikembangkan oleh Will Kymlicka. Kymlicka berargumen bahwa demokrasi liberal tradisional sering gagal menjamin keadilan substantif bagi kelompok minoritas karena hanya menekankan kesetaraan formal. Dalam masyarakat yang sangat majemuk, perlakuan yang sama tidak selalu menghasilkan hasil yang adil. Oleh karena itu, pengakuan terhadap perbedaan kelompok dan pengalaman marginal menjadi bagian penting dari kewargaan modern. Strategi Mamdani sejalan dengan gagasan ini karena ia menempatkan pengalaman minoritas sebagai sumber legitimasi politik yang setara dengan kepentingan mayoritas.
Dalam kerangka multicultural citizenship, politik identitas tidak dipandang sebagai ancaman bagi demokrasi, melainkan sebagai mekanisme korektif. Mamdani tidak menolak nilai universal demokrasi liberal, tetapi memperluasnya agar lebih responsif terhadap realitas sosial kota global. Koalisi yang ia bangun tidak berbasis kesamaan etnis semata, melainkan kesamaan pengalaman ketimpangan dalam struktur kota kapitalistik. Identitas menjadi alat untuk membangun solidaritas lintas komunitas minoritas, bukan untuk menciptakan fragmentasi sosial.
Namun, politik identitas dalam pemilihan wali kota New York juga menyingkap tantangan demokrasi kontemporer. Ketika pengalaman sosial menjadi modal politik utama, kontestasi dapat bergeser dari perdebatan program menuju perebutan pengakuan. Kymlicka menyadari dilema ini, tetapi menegaskan bahwa solusi bukanlah meniadakan identitas dari politik, melainkan mengelolanya dalam kerangka institusional yang adil. Dalam praktik Mamdani, identitas selalu dihubungkan dengan kebijakan publik konkret, sehingga tidak berhenti pada simbolisme semata.
Dengan demikian, pemilihan wali kota New York dan strategi Zohran Mamdani mencerminkan transformasi demokrasi di kota global. Politik tidak lagi hanya tentang agregasi suara individu yang abstrak, tetapi tentang pengakuan terhadap pengalaman sosial yang beragam. Melalui lensa teori multicultural citizenship Will Kymlicka, fenomena ini menunjukkan bahwa demokrasi liberal sedang mengalami perluasan makna. Minoritas tidak lagi berada di pinggiran politik, melainkan menjadi aktor utama yang membentuk arah kebijakan dan masa depan kota global.